English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Home » , , , » Si PITUNG dan DJI'IH Dipenjara di BALI MESTER?

Si PITUNG dan DJI'IH Dipenjara di BALI MESTER?

Written By Blogs owner SidikRizal on Senin, 20 April 2015 | 12.03

Kutipan berita dari harian Belanda Bintang Barat yang mengatakan bahwa di penjara Bali Meester atau yang sekarang dikenal dengan nama Jatinegara (perlu diteliti apakah ada penjara di kawasan Jatinegara atau apakah yang dimaksud adalah penjara Cipinang yang juga masuk kawasan Bali Meester pada zaman VOC?), disebut nama Pitung dan Ji'ih dalam artikel beritanya, seperti berikut:

Kelamaren Toean resident besar sendiri soedah pergi pereksa roema boei di Meester Cornelis dari mana doea orang hoekoeman gantoeng soedah lari, ija itoe pemboenoe jang paling djahat Pitoeng dan Dji-ie, doea-doea-nja asal dari Bekassie. Tapi tiada oroeng policie nanti dapet tangkap pada dia orang, sebab Toean resident soedah djanji oepah f 300 kepada siapa jang bisa tangal dia orang hidoep ataoe mati. Bintang Barat, 21 April 1893
sumber: Kompasiana.Irvan

Permasalahannya, bagaimana si Pitung bisa lepas dari hukuman mati yang menunggu? Dan bagaimana caranya si Pitung bersama Ji'ih bisa kabur dari penjara Bali Meester pada saat itu. Beberapa sumber berita menuliskan si Pitung dibebaskan oleh sang kepala penjara, tapi akhirnya diselidiki langsung oleh pejabat karesidenan Bali Meeter, yang mendapat pengakuan dari pejabat sipir penjara tidak melepaskan si Pitung ataupun membantu Pitung untuk kabur.

Didapat fakta bahwa seorang panjaga penjara memberikan belencong (sejenis linggis) untuk membongkar penjara, dan di lain tulisan dikatakan si Pitung dan Ji'ih berhasil kabur karena diberi tali oleh penjaga penjara yang entah kenapa mau membantu mereka. Wallahu a'lam bi showab, saya masih dalam penyelidikan setiap kasus dan sumber berita dengan rujukan pustaka yang ada, kalau perlu saya akan ke Malaysia, Singapura dan belanda untuk mendapatkannya. Semoga allah mengabulkan keinginan saya.

Namun alangkah adilnya jika kita juga perlu tahu sejarah tentang penjara 'bali meester, atau yang sekrang dikenal dengan Jatinegara, sebuah kawasan yang ditemukan oleh Meester Cornelis. Berikut artikelnya.

SEJARAH BALI MEESTER, JATINEGARA
Tempat ini pada awalnya ditemukan oleh Meester Cornelis Senen, seorang "proponent" atau guru Injil yang berasal dari Pulau Banda. Karena intrik-intrik terhadap dirinya maka dia tidak sampai diangkat menjadipridikant atau rohaniawan yang mempunyai wewenang berkhotbah. Oleh sebab itu Meester Cornelis dan orang-orang bawahannya mengolah sebidang tanah di hutan tersebut. Salah satu bukti tertulis mengenai keberadaan Meester Cornelis dapat diketahui dari catatan harian VOC yang disebutDagregister tertanggal 13 Desember 1656.

Setelah bertahun-tahun mengelola hutan, ia meminta izin kepada Kompeni dan ia peroleh tanggal 7 November 1661. Tahun itu juga dia meninggal dunia dan meninggalkan seorang anak laki-laki bernama Zacharias Senen. Batas-batas tanah Mr. Cornelis dapat dilihat pada surat pembelian tanah tersebut yang tertanggal 14 Juni 1673, yaitu : Batas di barat ialah Tjiliwung dan tanah tersebut meliputi 2 buah eylantjis yang tidak diartikan Pulau melainkanSemenandjung yang terbentuk karena liku-liku Tjiliwung. Batas timur tanah Meester Cornelis merupakan sebuah jalan yang sejajar dengan aliran sungai. Jalan tersebut berliku-liku, dan di musim hujan licin seperti sawah sedang digarap. Daerah ini selanjutnya dikenal dengan Jalan Jatinegara Barat. Mengenai dua semenanjung tersebut dapat dilihat pada perkembangan berikutnya dengan adanya Kampung Pulo yang terletak di atas suatu semenanjung, demikian pula Kampung-kampung Kebon Pala dan Tanah rendah yang terletak di semenanjung lainnya. Dari catatan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa tanah Meester Cornelis letaknya kira-kira sama dengan wilayah Kelurahan Kampung Melayu.

Menurut sebuah peta tahun 1811, jalan ke arah Kerawang menyimpang dan Pasar Lama (sekarang) dan ketika itu di sana berdiri satu-satunya pasar diMeester. Sekitar tempat penjara wanita dan gedung tua tersebut, berdiri pulabenteng lama Mr. Cornelis. Dan Pasar Lama ke arah Selatan, di sebelah kanan jalan dijumpai sebuah gedung Kantor DPU. Tahun 1811, sewaktu Belanda mempertahankan diri terhadap serbuan tentara Inggris, gedung tersebut merupakan Markas Belanda. Jl. Jatinegara Timur ketika itu belum ada, sedangkan yang sudah ada Jl. Pedati dan Jl. Melaju Besar. Batas timur pertahanan Belanda dalam peperangan itu disebut Oosterslokkan, dahulu merupakan parit yang dalam. Parit ini mulai digali dipedesaan, atas perintah Aria Kampung Baru (sekarang Kota Bogor) sekitar tahun 1700 yang dimaksudkan untuk keperluan pengairan.

Perkembangan selanjutnya selokan ini amat dangkal bahkan hampir kering dan mengalir sejajar dengan Jl. Otto Iskandardinata serta Jl. Jatinegara Timur. Mester bertambah besar dan dalam tahun 1850 didirikan sebuah sekolah tukang memperbaiki senapan. Tahun 1857 didirikan pula sebuah sekolah dasar untuk anak-anak Belanda dan Indo. Tahun 1773 didirikan sebuah pasar di pinggir Timur Mester yang dikenal dengan Pasar Kemis, karena pada hari itulah banyak orang berjual-beli terutama buah-buahan dan bahan pangan lainnya. Menurut tulisan seorang Belanda ratusan tahun yang lalu, daerah pasar itu terdiri dari sejumlah bangunan dari batu bergaya Cina dan gedek yang didiami pedagang-pedagang Cina dan Indonesia: Relatif banyaknya penduduk Tionghoa di Mester terlihat dengan adanya 2 orang Letnan Cina. Di Pasar Kemis diselenggarakan pula tari tjokek, diperkirakan dengan cara inilah kemudian orang Cina mengucap perkataan Djoget. Acara ini selain banyak dikerumuni orang, sering juga terjadi perkelahian di antara kaum laki-laki yang bergantian menari bersama tjokek.

Jl. Jatinegara Barat kemudian menjadi batas antara kelurahan Kampung Melaju dan Kelurahan Bali Mester. "Bali Mester" atau Kampung Bali Mester merupakan sebutan untuk membedakan kampung tersebut dengan kampung-kampung Bali lainnya di Jakarta, karena pada awalnya merupakan sebuah perkampungan yang dikepalai oleh Ida Gede Babadan. Abad-abad sebelumnya memang cukup banyak orang Bali yang tinggal di Batavia dan sekitarnya, yang dalam perkembangannya bercampur baur dengan suku-suku atau bangsa lainnya dan menjadi "orang Betawi."

0 komentar:

 
Support : Webrizal | Tutorial | My Opini
Copyright © 2009-2014. webrizal.com - All Rights Reserved
Template Recreated by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger