English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Home » , » Gue (Muslim) Juga Manusia, Bro!

Gue (Muslim) Juga Manusia, Bro!

Written By Blogs owner SidikRizal on Sabtu, 15 November 2014 | 02.28

Me, with Adjis Doa Ibu, one of the best comedian in MetroTV
Coba aja elo bayangin, gue udah berusaha untuk jadi orang bener, tapi tetap aja masih ada orang yang berusaha memprimitifkan diri gue, hanya karena penampilan gue yang gue emang udah coba untuk beda.

Gue punya prinsip, pakaian kayak gini bikin gue nyaman sebenarnya, tapi kenapa orang di lingkungan gue yang merasa gak nyaman, malah ada yang ketakutan.

Nah ini kan aneh? Seolah mereka sudah bikin stereotype nya orang yang berpakaian kayak gue ini, ghamis atau baju koko dan celana cingkrang, plus sedikit jenggot dan jidat item di kepala, itu pasti gerakan aliran wahabi lah, teroris lah, pentolan FPI lah, atau Islam radikal lah. Bahkan ada yang berani nuduh gue ISIS lah, jahiliyah banget gak tuh mereka, kalo gak mau gue sebut bedebah!
I don't know why, something shit still happened though we have tried hard to be nice and good. This story taught me some lessons of being adaptable is a must everywhere we go.

Padahal gue cuma mengikuti gaya dan semangat kembali kepada gaya hidup para shahabat Nabi Muhammad shalallaahu alaihi wa salam, yakni kaum salafiyah, sebuah generasi terbaik ummat Islam dalam masa kejayaannya. Jadi gak masalah bukan?

Ini dia Islamophobia yang gue alamin pas gue keliling negara-negara Asia yang notabene emang bukan negara Islam. Ah enggak juga sih, kayaknya banyakan hal yang menyenangkan daripada yang menyebalkan. Gue cuman mau curhat melalui blogs gue ini. Itu aja. Biar Allah, Big Boss gue nanti yang kasih penilaian.

Gue ini sebenarnya orangnya simpel banget. Kenapa gue suka pakaian kayak gini yang memang kental dengan bau Syariat Islam? Karena di dalam filosofi pakaian ghamis dan kelengkapannya, seperti celana cingkrang di atas mata kaki, semua tersirat makna kesederhanaan dan kerendahan hati. Gue emang rendah hati, tapi dengan style. Hahahaha, rendah hati macam apa ini?
Coba aja elo perhatikan, apa ada orang yang penampilannya kayak gue,khususnya yang cowok yah, mereka itu terlihat seperti orang kaya atau orang yang tajir? Gak ada kan. Bahkan kalo diperhatikan lebih dalam, sesungguhnya meskipun mereka (dan gue juga, bro/Sis, hehehe) sebenarnya kaya raya, tapi berusaha sebisa mungkin tidak memamerkan kelebihannya, meski gak berarti mereka berusaha untuk menyembunyikannya.

@SekalisInfo, @Michaeluk @Dzawinur dan gue sendiri @dikrizalSemua orang yang bercelana cingkrang, berkopyah seperti pak haji, berghamis ria, maka susah dibedakan mana si kaya dan mana si miskin. Mana si ganteng dan mana si kurang ganteng... (yang terakhir ini bisa-bisanya gue). Makanya gaya pakaian kayak gini gue sebut pakaian yang egaliter. Tau gak lo artinya egalitar? Buruan googling gih di internet, kalo gak ketemu nanti gue SMS ke HP lo, OK? Jangan sampe orang lain gak tahu kalo lo gak ngerti artinya EGALITER.

Yang jelas dengan pakaian seperti ini, gue merasa nyaman dan ogah mau datang ke tempat-tempat yang gak pantas alias sarangnya maksiat.

Bukan gue sok suci atau sok kayak orang munafik, tapi paling gak, gue harus ganti baju preman dulu, kalau mau masuk tempat seperti diskotik bukan? Masak iya pantes, pake ghamis terus gue masuk tempat kayak diskotik? Halah, cemen banget.

Memangnya mereka pikir gue gak boleh mengumpat apa? Gue ini juga manusia, Man! Beruntunglah elo semua, gue berusaha ngikutin ajaran agama yang gue yakinin bisa nyelametin gue nanti. Gue dilarang mengumpat. Tapi sebagai manusia normal, pastinya manusiawi banget kan kalo gue TERPAKSA harus mengumpat.

Yah pastinya gue harus pinter, pinter lah memilih kata yang emang gak layak buat konsumsi umat di televisi (halah niat banget masuk tipi).

Hehehe, secara gitu loh. Pakaian udah Islami, masak gue masih suka mengumpat seperti orang-orang jahiliyah... Ya gak level lah... ya agak sopan sedikit lah... misalnya, "Jahannam!"... atau misalnya yang agak umum, "Bedebah!". Itu pun sebenarnya oleh agama gue, dilarang keras. Makanya jarang gue pake... kecuali kepepet, itupun sama orang yang gak ngerti bahasa gue.

Pekerjaan gue sekarang, bantuin temen yang gue kenal saat gue mewawancarai dia hendak menjadi kandidat pilkada Kota Bekasi, dari partai Demokrat. Dia memang orang lama di partai, tapi sepertinya rezeki dan amanah untuk menjadi walikota maupun posisi wakilnya belum dia peroleh. Gue gak perlu kasihan sama dia, karena dia lebih kaya dari gue, OK? Hapus air mata palsu lo, saat terharu baca tulisan ini.

Sebut saja namanya Mister Pariyo, (seperti nama sebenarnya), adalah seorang pengusaha yang gak dadakan juga sih, tapi mungkin memiliki asset yang kebetulan lumayan banyak jika dibandingkan orang pada umumnya.

Salah satu assetnya yang kini jadi primadona usahanya adalah sebuah gunung batu atau lebih tepatnya bukit batu yang mengandung bahan batu hijau. Batu hijau atau greenstone ini memang termasuk salah satu komoditi ekspor yang lumayan banyak diminta oleh beberapa negara jiran, bahkan juga negara di benua Asia, Eropa dan mulai menembus benua Amerika, (Coba benua Afrika juga ya? Kan asyik tuh ekspor batu ke Afrika? Atau benua es, Antartika atau Artik, kali aja gue bisa terbang ke sana?)

Namun yang paling unik itu, adalah limbah serbuk dari greenstone, atau yang lebih keren disebut Zeolite. Jadi potongan tile yang seperti ubin  keramik berwarna kehijauan mulai dari ukuran 10cm x 10cm hingga yang berukuran 50cm x 50cm bisa dibuat di tambang batu hijau milik Mr. Pariyo yang terletak di wilayah Kecamatan Cikembar, Sukabumi, Jawa Barat.


Sisa-sisa dari potongan tile greenstone inilah yang kemudian dihancurkan dan berubah bentuk menjadi tepung Zeolite Powder atau bisa dalam bentuk Zeolite Granule. Sepertinya cuma tepung batu, namun kaya sekali manfaatnya buat dunia pertanian, industri dan bahkan konstruksi. Intinya, teman gue ini memang punya tambang gunung emas yang berwarna putih kehijauan dan itu gak akan habis mungkin hingga 100 tahun ke depan. Bisa bayangin gak betapa dia punya sumber daya alam yang gak akan habis dimakan 3 keturunannya, jika anak-anaknya menguasai ilmu bisnis pertambangan. Makanya gue punya niatan besanan sama ini orang, atau kalaupun gagal, gue poligami aja anaknya. Huahahahahahaha *TawaGayaSetanGimanaSih?

Karena kedekatan gue itulah, maka gue diminta bantu-bantuin dia untuk menjadi pemasar di luar negeri, karena pertimbangan keahlian berbahasa Inggris dan bahasa asing lainnya, bukan karena wajah ganteng gue. Busyet dah, gue merasa kaya dimanfaatin sama dia, tapi yah apa mau dikata, itulah gunanya seorang teman bukan? Teman itu saling memanfaatkan.

Celakanya, kadang dia suka ngeledekin cara berpakaian gue yang mirip teroris ISIS ini.
"Dik, le kenapa sih pakai baju yang mirip orang-orang FPI gitu?" tanya Pariyo ke gue sambil senyum-senyum becanda, dan gue tahu persis maksudnya ngeledek sebagai seorang teman, "Lagian elo pake atribut kayak gitu, apa elo udah hapal Al-Qur'an? Atau apa elo pernah khatam baca Qur'an?"
Ya gue sewotlah, "Ya sudah pernah khatam lah, emangnya kenapa, Bros?" gue sengaja panggil dia Bros yang artinya Brother Boss.

"Oh gitu, apa loe pernah baca Al-Qur'an dari awal sampai akhir, terus lo baca terjemahan artinya terus lo hapalin dari awal surat hingga akhir surat?" tanyanya lagi dengan nada sok lucu gitu sih.

"Ya.... belumlah," jawab gue ragu karena kayaknya gue ngerti dia bakal ngomong apa.

"Nah kalo belum, kenapa lo masih aja pake atribut-atribut muslim? Seolah elo itu cuma kulitnya doang, tapi isinya lo gak kuasai." balasnya terkekeh, dan gue bener-bener terpukul telak sambil urut dada (milik gue sendiri lah, masak dada cewek, ntar gue digaplok lagi!). Gue ngerasa dongkol banget, tapi gue sabar sambil meregangkan tangan gue, supaya nggak mengepal. Kuatir ketahuan kalo gue emosi banget.

Ledekan-ledekan Mr. Pariyo sebenarnya gak begitu berarti buat gue, sepanjang dia konsekwen dengan ucapannya, dan dia emang mengajak gue pergi keliling Asia untuk berkunjung ke beberapa negara membereskan masalah bisnisnya ekspor Zeolite.

Toh akhirnya, setelah kami menginap bersama di hotel di luar negeri, kami sudah mulai seperti saudara sendiri, dan kebetulan selisih umur antara gue dan Mr. Pariyo cuma tiga bulan. Dia kelahiran Desember 1967, sedangkan gue kelahiran Februari 1968. Udah kayak kakak adek, yang suka berantem, tapi tetap saling menyayangi, bisa paham kan lo Bro/Sis? Gimana rasa siblings (saudara kandung)? Satu masa elo pengen nyekek lehernya sampe krekek, tapi lain waktu lo bisa nyanyi-nyanyi bareng sambil ketawa-ketiwi saling menyayangi.

Nah ketika gue dan Mr. Pariyo, mengurus bisnis yang bermasalah di Bangkok, teptanya di Distrik Shukumvit, kota Bangkok, ada satu resto gerai McDonald di pojokan area Nana Business Center, yang tak jauh dari situ, kira-kira 100 m ada kawasan Muslim. Khusus buat orang asing yang tinggal sementara di Bangkok.

Satu pagi, keluar dari Amaris Hotel, Bangkok, gue sama Mr.Pariyo mau cari sarapan, pilihan jatuh ke McDonald.

Sayangnya bos gue ini, kurang hati-hati memilih makanan, meskipun dia tahu ini Bangkok, kota non muslim, dengan seenaknya dia pesan sarapan di McD dan langsung duduk menunggu pesanan diantarkan tiba.

Gue curiga, karena gue lihat di daftar menu di atas etalase bisa diputar ganti (movable), dan itu berfungsi disesuaikan menu sajiannya dengan waktu makan. Waktu gue baca di atas menu, banyak banget menu sarapan yang menggunakan bacon, karena tulisannya ada 2 jenis, satu tulisan berhurup Thailand dan satu lagi dalam bahasa Inggris. Mr. Pariyo gak sengaja memesan bacon burger dengan dadar telur buat sarapannya.

Ya gue senyum aja dalam hati, dasar si bos ini, udah bahasa Inggrisnya terbatas, eh pesan makanan sembarangan di tempat yang gak terjamin halalnya. Gue anggap bos gue ini agak katrok, maklum belum lama jadi OKB. Kalo sudah lebih dari 10 tahun jadi OKB, masih disebut OKB gak sih, atau sudah bisa disebut OKB Senior atau masih OKB Junior? Hahaha, gue kadang geli lihat wajahnya yang imut-imut bedebah itu.

Nah saat gue ganti pesanan, dari bacon burger komplit ke chicken atau fish burger buat breakfast, gue gak sadar, ada bule British, di samping gue yang merasa gue menyalip antriannya. Gue bener-bener gak tahu, tapi kayaknya dia naik emosi, Bro/Sis.

Biar pun gitu, gue gak lupa permisi sama dia, karena menyela antriannya.
"Sorry, Sir. I just wanna change my order." dan dia pun tampak kesal dengan tatapan mata yang agak merah yang gue gak tahu kenapa pada awalnya. Sayangnya gue gak tahu kalo dia saat itu memang sedang mabuk. Jahannam banget nih bule, rutuk gue dalam hati, melihat cara mandang gue yang penuh dengan kebencian.

Kebetulan si petugas layanan order, waitress gak begitu mahir berbahasa Inggris, ketika gue minta ganti menu jadi chicken burger plus hot coffee. Jadi tentunya makan waktu banget ngejelasin gue mau ganti menu sarapan paginya. Setelah penjelasan njelimet dalam bahasa Tarzan selama 4 menitan, akhirnya sang asisten manajer keluar, dan mengerti permintaan gue. Tapi si bule udah keburu naik darah, dan keluarlah umpatan serta makian kecilnya dalam bahasa Inggris yang kental, kayaknya emang logat British. Gue nggak peduli, sepanjang dia jangan berani melihat langsung ke muka gue.

Begitu gue duduk ambil kursi di depan bos, Mr.Pariyo, si bos meskipun berpenampilan dengan kemeja dan jas, tapi tampak agak culun ini masih asyik dengan gadgetnya berkomunikasi dengan kantor klien mereka yang berlokasi di distrik Nonthaburi, Pakkret.

Dan berapa menit kemudian, datang pesanan kami, chicken burger dan hot coffee, selepas waitress mengantarkan pesanan di meja kami, si bule Inggris itu duduk tepat 2 meter di samping Mr. Pariyo. Dan dia meracau dalam dialeg British seperti orang kumur-kumur kayak orang wudhu. Sambil ngoceh, beberapa remah rotinya berhamburan keluar. Iih jorok banget, pengen gue pasangin kondom tuh kepalannya, biar gak belepetan kemana-mana makananya.

Gue agak risih, tapi gue berusaha untuk ramah. Ini di negeri orang, dan gue lagi ada urusan bisnis sama bos gue. Jadi gue memang harus menjaga sikap serta berusaha sopan pada siapapun, kecuali gue ini mafia. Sebenarnya, gue gak ada masalah, bahkan kalau perlu gue bisa merender bule jahannam depan gue ini dengan sekali kibasan pulpen tajam yang gue bawa selalu di kantong saku baju tepat langsung merobek tenggorokannya. Tapi gue muslim, dan gue berusaha menahan amarah gue. Itulah untungnya gue ngaji sama ustadz gue, gue harus bersabar terhadap orang kafir. lagian ngapain ini bule gue harus render, emangnya gue James Bond? Gila aja nih setan bisikin telinga gue.

Boss sih gak begitu ngerti omongan cepat tuh bule, tepatnya mumbling dari si bule yang sudah mulai berani menatap mata gue secara nanar. Hmmm, gue gak bisa diam aja, gue berusaha membuka komunikasi sopan.

"Sorry Sir, do you want to say something to us? My boss and I are businessmen here, and we like to talk to everyone around here peacefully! Particularly for our business. And we don't want to make any problem here. OK?", gue berusaha tenang menatap mata bule itu dengan lembut. Tentunya dengan menahan amarah dan siap menerkam lehernya, jika dia membuat satu gerakan mencurigakan yang mengancam.

"You people are the same everywhere, muslim make noise and piss everybody's off!" kata-katanya yang seperti orang berkumur-kumur ditambah dengan logat British-nya sudah merubah perasaan gue dari emosi menahan marah jadi pengen ketawa ngakak. Oh gini toh gayanya kalo bule Inggris mabok? Hahaha, gue ketawa dalam hati. Persis kayak Mr. Bean lagi ngedumel.

(Maaf, tunggu bersambung dulu yah, gue mau ke toilet bentaran, udah gak tahan nih kebeletnya saking lucu nahan geli gue sama tu bule!)

1 komentar:

Isanti Chandra Azisiah mengatakan...

wkakakakkaaa asli kocak

 
Support : Webrizal | Tutorial | My Opini
Copyright © 2009-2014. webrizal.com - All Rights Reserved
Template Recreated by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger