English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Home » , , , , » AKHIRNYA PENGOBATAN HIV/AIDS DITEMUKAN

AKHIRNYA PENGOBATAN HIV/AIDS DITEMUKAN

Written By dobeldobel.com on Kamis, 06 Agustus 2009 | 16.29

Ketumbit DuaRupa bisa sembuhkan HIV/AIDS
Pengguna Narkoba Berat dan Penderita HIV/AIDS
Disembuhkan Secara Pengobatan Medis dalam 6 s/d 12 Minggu

Telp (021)9346.1965 - 081385.386.585 PIN BB 278F561F

Cibubur, dobeldobel.com
Tak dinyana penyakit yang dikategorikan penyakit berbahaya yang belum bisa disembuhkan ini oleh badan kesehatan dunia, WHO, kini sudah ditemukan obatnya oleh seorang pengusaha kesehatan bangsa Indonesia. Kita patut berbangga, ternyata justru obat-obatannya datang dari tumbuhan di daerah reopis seperti Indonesia. Bahkan mungkin hanya terdapat di daerah tertentu saja.



Lalu apakah sang penemu yang kebetulan mempunyai bidang usaha Rumah Sakit ini, mau mengkomersilkannya dengan harga selangit? Ternyata tidak. Justru yang dia kuatir adalah datangnya pihak asing, luar negeri ke Indonesia untuk memborong obat ini dan menjualnya ke seluruh dunia dengan harga yang tak terjangkau. Karena itulah kini dia hanya mamu menjual dan mendistribusikannya kepada orang yang sangat membutuhkan dengan harga terjangkau. Bahkan salah satu pasiennya yang dia tolong dan kini bukan saja memberikan testimoni tapi juga membantu memasarkan ke wilayah tempatnya tinggal. Sebutlah pasien yang berhasil disembuhkan dengan obat-obatan tradisional yang berasal dari pedalaman hutan di Jambi itu kita sebut dengan nama pak Bobby.

Menurut pak Bobby yang kini telah berubah penampilannya menjadi sedikit bersih dan kekar di usianya yang telah 40 tahun, bahwa keadaan fisiknya kini jauh berubah dari saat dia masih menggunakan narkoba dan terjangkit virus HIV. Saat dia dinyatakan positif, maka harapan dan semangat hidupnya seperti hilang melayang. Tapi entah bagaimana, perjalananya menuju pengobatan telah menggiringnya bertemu dengan seorang wanita tua yang misterius pada awalnya. baru di belakang waktu ia mengetahui bahwa wanita tersebut adalah seorang tabib tradisional dari daerah pelosok hutan di Jambi.

Bagaimana ia bisa disembuhkan? Pak Bobby yang terkadang dipanggil Ricky ini mengatakan bahwa ia diberi minuman berwarna agak kehitaman dan pahit rasanya. Dia menjalanani pengobatan terapi herbal ini selama beberapa minggu, dan baru pada hari pertama dia langsung merasakan perubahan yang lumayan berarti. Setelah bebrapa kali minum ramuan obat tersebut, dia memutuskan untuk tinggal selama beberapa hari di wilayah pedalaman Jambi itu.

Dan saya mencoba menyimpulkan sementara waktu bahwa obat ini ternyata merubah keadaan dan kondisi tubuh saya yang sudah sangat lemah dan tak ada harapan sama sekali. Setelah menkonsumsi minuman jamu herbal ibu tua itu, dia pun merasa mulai membaik, dan setelah kondisinya tubuhnya pulih, diapun diberi 5 karung daun untuk ramuan obat itu untuk dibawa pulang.

Setelah mengalami kesembuhan saya mencoba menawarkan kepada teman-teman saya, cerita Ricky alias pak Bobby ini kepada dobeldobel.com. kebanyakan teman-temannya di Medan adalah penderita pengguna narkoba akut, dan alhasil setelah mereka menkonsumsi minuman ramuan daun tersebut semuanya mengalami perbaikan dan kesembuhan secara bertahap.

Ada satu temannya yang juga menderita penyakit HIV-AIDS. Dari fotokopi surat keterangan laboratorium dari pemeriksaan Instalasi Patologi Klinik RS Adam Malik Medan, statusnya adalah CD4 dimana Abs Cnt-nya tinggal 2 yang artinya sudah tidak mampu l;agi untuk bergerak dari tempat tidur, dan setelah minum ramuan daun tersebut, kini sudah mampu berjalan dan berbicara secara normal, tambah Ricky penuh semangat.

Ibu Maria - Produsen Obat HIV/AIDS
Hal senada juga disampaikan oleh Maria Susanti, seorang pengusaha kesehatan yang tertarik dan mau membantu Ricky untuk memasarkan dan membuat obat daun herbal itu menjadi standard pengobatan dunia medis. Kemudian Maria pun mendaftarkan legalitas paten ke BPOM serta DinKes.

maria Susanti menyatakan "Ramuan ini sangat berkhasiat untuk mengobati berbagai macam penyakit terutama penderita kecanduan narkoba akut dan HIV/AIDS. Untuk derivasi (turunan) dari ramuan ini juga bisa mengobati sakit kencing manis, sekaligus meningkatkan kecerdasan daya pikir terutama pada anak-anak.

Hasil dari penelitian lab, bahwa obat herbal yang diekstrak dari daun itu, kini dipatenkan dengan nama Ramuan Dua Rupa, ternyata sangat kaya dengan zat anti-oksidan dan anti-toksid. Di mana hal ini berarti sangat baik untuk memperbaiki organ tubuh yang telah rusak karena gangguan sirkulasi darah, tutur Maria merinci.

"Saya berani menjamin para penderita kecanduan narkoba dan penyakit HIV/AIDS akan sembuh dalam waktu relatif dingkat bila rutin meminum ramuan obat herbal ini." tegas Maria yang mulai tertarik pertama kali dengan kasus unik Ricky semenjak ditemukan.

Obat ramuan Dua Rupa ini sendiri telah didaftarkan di Dinkes dengan nomor 440/8273/VI/2009P.002009000316 dan kini telah diproduksi massal oleh CV Rani Herbal Mandiri.

Cara mengkonsumsinya sangat praktis cukup dengan merebus hingga mendidih (seperti teh herbal layaknya) kemudian dimunm setelah dingin secara rutin. Biasanya hanya dalam waktu 4 minggu, maka penyakit HIV/AIDS dan kecanduan narkoba sembuh total. Dan untuk sementara waktu pengobatan ini dipatok harga yang tidak terlalu mahal, namun bila hendak dijual secara massal untuk ekspor, Maria menegaskan akan mematok hargo yang sangat tinggi.

Dalam bulan ini (Agustus 2009) Maria Susanti, yang juga Pengusaha RM besar di bilangan Cibubur ini, telah memborong 5 ton daun ajaib itu dari Jambi untuk diproduksi pengemasannya di Jakarta.

Adapun jenis daun ajaib ini mempunyai empat nama, yakni Daun Ketumbit Ramuan Dua Rupa yang berfungsi sebagai obat penyembuh total penderita HIV/AIDS dan kecanduan narkoba. Indikasi penyembuhan adalah membuang racun dalam tubuh secara total dari ketergantuangan narkoba dan rokok. Meningkatkan daya pikir dan kekebalan tubuh secara drastis.

Kemudian ada ramuan turunan lainnya yang bernama Daun Ketapang, yang bermanfaat untuk memperbaiki sistem syaraf, mengobati Parkinson, menyembuhkan rheumatik, mengobati batuk darah, menymbuhkan kepikunan, melancarkan peredaran darah, meningkatkan daya pikir, menghilangkan sakit pinggang dan menyembuhkan asam urat.

Untuk informasi lebih lanjut tentang obat ajaib ini Anda bisa menghubungi kantor dobeldobel.com atau via telepon +6221.9346.1965
atau klik link berikut ini http://spiritia.or.id
---------------------------------------------------------------------------------------

Berikut tulisan yang berkenaan dengan Pengobatan HIV/AIDS dari berbagai Sumber.

nusaindah.com
Pengobatan HIV -AIDS pada dasarnya meliputi aspek Medis Klinis ,Psikologis dan
Aspek Sosial

Aspek Medis meliputi:
1.Pengobatan Suportif
2.Pencegahan dan pengobatan infeksi Oportunistik
3.Pengobatan Antiretroviral

Suportif
Penilaian gizi penderita sangat perlu dilakukan dari awal sehingga tidak terjadi hal hal yang berlebihan dalam pemberian nutrisi atau terjadi kekurangan nutrisi yang dapat menyebabkan perburukan keadaan penderita dengan cepat.

Penyajian makanan hendaknya bervariatif sehingga penderita dapat tetap berselera makan
Bila nafsu makan penderita sangat menurun dapat dipertimbangkan pemakaian obat Anabolik Steroid.

Proses Penyediaan makanan sangat perlu diperhatikan agar pada saat proses tidak terjadi penularan yang fatal tanpa kita sadari.

Seperti misalnya pemakaian alat-alat memasak, pisau untuk memotong daging tidak boleh digunakan untuk mengupas buah, hal ini di maksudkan untuk mencegah terjadinya penularan Toksoplasma, begitu juga sebaliknya untuk mencegah penularan jamur.

Pencegahan infeksi oportunistik
Meliputi penyakit infeksi Oportunistik yang sering terdapat pada penderita infeksi HIV dan AIDS.

1. Tuberkulosis
Sejak epidemi AIDS maka kasus TBC meningkat kembali.
Dosis INH 300 mg setiap hari dengan vit B6 50 mg paling tidak untuk masa satu tahun.

2. Toksoplasmosis
Sangat perlu diperhatikan makanan yang kurang masak terutama daging yang kurang matang.
Obat : TMP-SMX 1 dosis/hari

3. CMV
Virus ini dapat menyebabkan Retinitis dan dapat menimbulkan kebutaan, Ensefalitis, Pnemonitis pada paru, infeksi saluran cernak yang dapat menyebabkan luka pada usus.
Obat : Gansiklovir kapsul 1 gram tiga kali sehari.

4. Jamur
Jamur yang paling sering ditemukan pada penderita AIDS adalah jamur Kandida.
Obat : Nistatin 500.000 u per hari
Flukonazol 100 mg per hari.
---------------------------------------------------------------------------

Pakde Jack - Juragan Medis

Harapan Baru Pengobatan HIV AIDS

HIV / AIDS, adalah kata-kata yang menakutkan bagi sebagian orang, termasuk saya . Penyakit yang banyak ditularkan melalui IDU (injection drug use) ini memang berbahaya, lha wong yang diserang adalah pertahanan tubuh kita :evil: . Ketika invasi virus HIV udah ampuh, maka si penderita akan mudah sekali terjangkit berbagai penyakit, terutama infeksi, lha wong pertahanan tubuhnya emang amburadul kalo udah kena HIV.
Makrofag, Sel T dan mutasi gen
Tubuh kita punya tentara lho, namanya sistem imun yang beranggotakan makrofag, limfosit, Sel T dan teman-temannya. Jadi ketika terdapat benda asing, bakteri atau virus, sistem pertahanan tubuh ini akan bergerak untuk menyerang. Misalkan ada bakteri berbahaya di usus, maka dengan kesigapan dan profesionalisme tinggi si makrofag, Sel T dan teman-temannya dengan cepat akan bergerak ke daerah yang diserang dan langsung melawan bakteri tersebut dengan cara memakannya..nyamm.
Sehingga infeksi tidak terjadi dan tubuh kita tetep sehat :-P .
Lha pas kena HIV, virus ini menyerang makrofag, Sel T dan teman-temannya tadi sehingga terjadi penurunan sistem kekebalan tubuh. Emang virusnya pinter, yang diserang koq ya pas jagoannya sehingga gak bisa ngapa-ngapain. Ketika ujung tombak sistem pertahanan tubuh ini amburadul, jelas berbagai bakteri dan virus lain semakin mudah menyerang tubuh. Makanya HIV / AIDS dianggap sebagai pintu gerbang terjadinya penyakit aneh-eneh lainnya :twisted: .
Hmm.. Virus ini menyerang Sel T dan makrofag melalui ikatan virus dan CD4 dengan bantuan CCR5, ternyata ada sebagian orang kulit putih (bule) dengan presentasi 1-3 % di daratan Eropa yang secara alami mengalami mutasi gen yang mengekspresikan CCR5 ini, karena mutasi tersebut maka CCR5 mengalami perubahan sehingga virus HIV tidak bisa mengadakan ikatan dengan CD4, karena tidak bisa berikatan maka tidak terjadi invasi virus ;-) . Entah mutasi gen ini karena apa sampai saat ini belum diketahui, yang jelas orang-orang tersebut memiliki ketahanan yang lebih bagus dan bahkan kebal terhadap virus HIV.
Entah mutasi gen ini karena apa sampai saat ini belum diketahui, yang jelas orang-orang tersebut memiliki ketahanan yang lebih bagus dan bahkan kebal terhadap virus HIV.
Mutasi ini disebut sebagai CCR5 delta 32. Orang dengan satu copy CCR5 delta32 memiliki ketahanan dan peluang hidup lebih lama jika terserang HIV, sedangkan orang dengan dua copy CCR5 delta32 (artinya dari bapak dan ibunya sama-sama memiliki mutasi gen ini) hampir bisa dikatakan kebal terhadap infeksi HIV..hmm..kereeen.
Stem Sel, sebuah media pemindahan kekebalan tubuh
Akhir-akhir ini Stem Sel emang lagi rame dibahas di berbagai forum dan jurnal kedokteran baik dalam negri maupun luar negri, hal ini dikarenakan dengan Stem Sel memungkinkan kita untuk memodifikasi DNA sehingga bisa memilah hal-hal yang di ekspresikan oleh DNA yang bermanfaat bagi kesehatan, misalkan untuk memindahkan kekebalan terhadap virus HIV dari orang yang mengalami mutasi CCR5 delta32 ke orang yang terserang HIV dan bahkan mungkin ke semua manusia sehingga virus HIV bisa bertekuk lutut 8-) .
Seorang pasien HIV AIDS berusia 42 tahun dengan komplikasi leukimia mengalami perkembangan yang sangat signifikan, bahkan hasil laboratorium menunjukkan bahwa dalam darahnya tidak terdeteksi virus HIV dan berbagai gejala AIDS yang selama ini di derita juga mengalami penurunan yang sangat drastis. Perkembangan ini dimulai sejak pasien ini menjalani transplantasi Stem Sel dari pendonor yang dianggap kebal terhadap HIV 2 tahun sebelumnya. Fakta ini didasarkan pada sebuah laporan yang di publikasikan di New England Medical Journal.
Menurut Dr. Gero Hutter (ketua tim dokter yang menangani pasien ini), dua tahun setelah transplantasi tidak didapatkan tanda-tanda HIV AIDS pada pasien ini, padahal selama dua tahun tersebut tidak menggunakan obat-obat antiretroviral yang biasa digunakan oleh penderita HIV AIDS lainnya. Hmm.. sebuah loncatan besar di dunia kedokteran :-o .
Penelitian, percobaan dan studi lebih lanjut lagi.
Meskipun satu pasien telah terbukti bisa dikatakan sukses dalam pengobatan HIV menggunakan metode ini, namun penelitian lebih jauh masih harus dilakukan lagi untuk bisa menjadi standart terapi HIV AIDS. Hal ini dikarenakan metode ini memiliki resiko yang lumayan tinggi, yaitu pada saat transplantasi Stem Sel para dokter harus menurunkan dan bahkan menghilangkan sistem kekebalan tubuh penderita untuk bisa diganti dengan sistem kekebalan baru yang jauh lebih sehat. Lha pada saat sistem kekebalan diturunkan atau malah dihilangkan inilah yang berbahaya, masalahnya ada bakteri atau virus sedikit saja bisa berakibat sangat fatal pada pasien :( .
Hmm.. keep working doc!! saya selaku juniormu akan selalu mendoakan dan belajar lebih keras demi tercapainya tingkat kesehatan seluruh umat manusia yang lebih baik *sok bgt ya?*

6 komentar:

Syafri Ismayana mengatakan...

Adakah OBAT untuk HIV/AIDS saat ini?
(Tulisan 2 dari 3 bagian)

Obat-obatan yang telah ditemukan pada saat ini menghambat pengubahan RNA menjadi DNA dan menghambat pembentukan protein-protein aktif. Enzim yang membantu pengubahan RNA menjadi DNA disebut reverse transcriptase, sedangkan yang membantu pembentukan protein-protein aktif disebut protease.

Untuk dapat membentuk protein yang aktif, informasi genetik yang tersimpan pada RNA virus harus diubah terlebih dahulu menjadi DNA. Reverse transcriptase membantu proses pengubahan RNA menjadi DNA. Jika proses pembentukan DNA dihambat, maka proses pembentukan protein juga menjadi terhambat. Oleh karena itu, pembentukan virus-virus yang baru menjadi berjalan dengan lambat. Jadi, penggunaan obat-obatan penghambat enzim reverse transcriptase tidak secara tuntas menghancurkan virus yang terdapat di dalam tubuh. Penggunaan obat-obatan jenis ini hanya menghambat proses pembentukan virus baru, dan proses penghambatan ini pun tidak dapat menghentikan proses pembentukan virus baru secara total.

Obat-obatan lain yang sekarang ini juga banyak berkembang adalah penggunaan penghambat enzim protease. Dari DNA yang berasal dari RNA virus, akan dibentuk protein-protein yang nantinya akan berperan dalam proses pembentukan partikel virus yang baru. Pada mulanya, protein-protein yang dibentuk berada dalam bentuk yang tidak aktif. Untuk mengaktifkannya, maka protein-protein yang dihasilkan harus dipotong pada tempat-tempat tertentu. Di sinilah peranan protease. Protease akan memotong protein pada tempat tertentu dari suatu protein yang terbentuk dari DNA, dan akhirnya akan menghasilkan protein yang nantinya akan dapat membentuk protein penyusun matriks virus (protein struktural) ataupun protein fungsional yang berperan sebagai enzim.

Syafri Ismayana mengatakan...

Adakah OBAT untuk HIV/AIDS saat ini?
(Tulisan 1 dari 3 bagian)

AIDS merupakan penyakit yang paling ditakuti pada saat ini. HIV, virus yang menyebabkan penyakit ini, merusak sistem pertahanan tubuh (sistem imun), sehingga orang-orang yang menderita penyakit ini kemampuan untuk mempertahankan dirinya dari serangan penyakit menjadi berkurang. Seseorang yang positif mengidap HIV, belum tentu mengidap AIDS. Banyak kasus di mana seseorang positif mengidap HIV, tetapi tidak menjadi sakit dalam jangka waktu yang lama. Namun, HIV yang ada pada tubuh seseorang akan terus merusak sistem imun. Akibatnya, virus, jamur dan bakteri yang biasanya tidak berbahaya menjadi sangat berbahaya karena rusaknya sistem imun tubuh.

Karena ganasnya penyakit ini, maka berbagai usaha dilakukan untuk mengembangkan obat-obatan yang dapat mengatasinya. Pengobatan yang berkembang saat ini, targetnya adalah enzim-enzim yang dihasilkan oleh HIV dan diperlukan oleh virus tersebut untuk berkembang. Enzim-enzim ini dihambat dengan menggunakan inhibitor yang nantinya akan menghambat kerja enzim-enzim tersebut dan pada akhirnya akan menghambat pertumbuhan virus HIV.

HIV merupakan suatu virus yang material genetiknya adalah RNA (asam ribonukleat) yang dibungkus oleh suatu matriks yang sebagian besar terdiri atas protein. Untuk tumbuh, materi genetik ini perlu diubah menjadi DNA (asam deoksiribonukleat), diintegrasikan ke dalam DNA inang, dan selanjutnya mengalami proses yang akhirnya akan menghasilkan protein. Protein-protein yang dihasilkan kemudian akan membentuk virus-virus baru.

Syafri Ismayana mengatakan...

Adakah OBAT untuk HIV/AIDS saat ini?
(Tulisan 3 dari 3 bagian)

Gambar 2 menunjukkan skema produk translasional dari gen gag-pol dan daerah di mana produk dari gen tersebut dipecah oleh protease. p17 berfungsi sebagai protein kapsid, p24 protein matriks, dan p7 nukleokapsid. p2, p1 dan p6 merupakan protein kecil yang belum diketahui fungsinya. Tanda panah menunjukkan proses pemotongan yang dikatalisis oleh protease HIV (Flexner, 1998).

Menurut Flexner (1998), pada saat ini telah dikenal empat inhibitor protease yang digunakan pada terapi pasien yang terinfeksi oleh virus HIV, yaitu indinavir, nelfinavir, ritonavir dan saquinavir. Satu inhibitor lainnya masih dalam proses penelitian, yaitu amprenavir. Inhibitor protease yang telah umum digunakan, memiliki efek samping yang perlu dipertimbangkan. Semua inhibitor protease yang telah disetujui memiliki efek samping gastrointestinal. Hiperlipidemia, intoleransi glukosa dan distribusi lemak abnormal dapat juga terjadi.

Gambar 3 menujukkan lima struktur inhibitor protease HIV dengan aktivitas antiretroviral pada uji klinis. NHtBu = amido tersier butil dan Ph = fenil (Flexner, 1998).

Uji klinis menunjukkan bahwa terapi tunggal dengan menggunakan inhibitor protease saja dapat menurunkan jumlah RNA HIV secara signifikan dan meningkatkan jumlah sel CD4 (indikator bekerjanya sistem imun) selama minggu pertama perlakuan. Namun demikian, kemampuan senyawa-senyawa ini untuk menekan replikasi virus sering kali terbatas, sehingga menyebabkan terjadinya suatu seleksi yang menghasilkan HIV yang tahan terhadap obat. Karena itu, pengobatan dilakukan dengan menggunakan suatu terapi kombinasi bersama-sama dengan inhibitor reverse transcriptase. Inhibitor protease yang dikombinasikan dengan inhibitor reverse transkriptase menunjukkan respon antiviral yang lebih signifikan yang dapat bertahan dalam jangka waktu yang lebih lama (Patrick & Potts, 1998).

Dari uraian di atas, kita dapat mengetahui bahwa sampai saat ini belum ada obat yang benar-benar dapat menyembuhkan penyakit HIV/AIDS. Obat-obatan yang telah ditemukan hanya menghambat proses pertumbuhan virus, sehingga jumlah virus dapat ditekan.

Oleh karena itu, tantangan bagi para peneliti di seluruh dunia (termasuk Indonesia) adalah untuk mencari obat yang dapat menghancurkan virus yang terdapat dalam tubuh, bukan hanya menghambat pertumbuhan virus. Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati, tentunya memiliki potensi yang sangat besar untuk ditemukannya obat yang berasal dari alam. Penelusuran senyawa yang berkhasiat tentunya memerlukan penelitian yang tidak sederhana. Dapatkah obat tersebut ditemukan di Indonesia? Wallahu a’lam.

Pustaka:

1. Flexner, C. 1998. HIV-Protease Inhibitor. N. Engl. J.Med. 338:1281-1293
2. Patrick, A.K. & Potts, K.E. 1998. Protease Inhibitors as Antiviral Agents. Clin. Microbiol. Rev. 11: 614-627.

www.dobeldobel.co.cc mengatakan...

Admin dobeldobel.com menjawab

Sebagai informasi, perempuan lebih mungkin terinfeksi HIV dari suaminya daripada sebaliknya, karenanya kami anjurkan anda untuk segera tes HIV.

Sebagian besar infeksi HIV terjadi melalui:
* Hubungan seks tanpa menggunakan kondom
* Penggunaan jarum suntik yang telah terkontaminasi HIV
* Dari ibu HIV positif ke anak

Kerahasiaan tes HIV di mana saja terjamin. Namun perlu diperhatikan bahwa di manapun anda melakukan tes, maka apabila hasi tes anda positif, hasil tersebut akan dilaporkan ke pemerintah melalui dinas kesehatan tanpa mempedulikan identitas anda. Sementara itu, anda akan dirujuk untuk mendapatkan pengobatan yang sesuai.

Pengobatan HIV adalah gratis dari pemerintah untuk mereka yang telah memenuhi syarat. Syarat memulai terapi antiretroviral (ART) antara lain jumlah CD4 yang kurang dari 200.

Silahkan browsing di situs ini dan situs www.spiritia.or.id untuk informasi lebih lengkap.

Anonymous mengatakan...

Umur Saya 31 tahun. Beberapa minggu yang lalu isteri Saya meninggal karena HIV-AIDS dan Saya tidak pernah tau sebelumnya kalau isteri Saya terinfeksi HIV-AIDS. Hasil perkawinan Saya dengan isteri Saya sekarang berusia 10 bulan. Isteri saya nelahirkan putri kami melalui operasi caesar dan setelah lahir tidak pernah diberikan ASI. Yang ingin Saya tangakan sbb :

1. Apakah Saya sebagai Suami pasti terinfeksi HIV - AIDS dari isteri Saya.??atau adakah kemungkinan Saya tidak terinfeksi HIV AIDS..??
2. Seberapa besar kemungkinan orang terinfeksi HIV AIDs melalui hubungan intim..??
3. Dimana tempat Saya melakukan tes HIV-AIDS yang kerahasiaannya terjamin..??
4. Seberapa besar kemungkinan putri kami tertular/terinfeksi HIV-AIDS..??
5. Sekiranya Saya dan Putri Saya dinyatakan terinfeksi HIV-AIDS..bagaimana pengobatannya..?? Apakah obat-obatanya mudah di dapat..dan kira-kira berapa harga obat2an tersebut..??kira2 berapa besar budget yang harus kami keluarkan untuk obat2an itu selama 1 bulan...??
6. Sekiranya Saya dan putri Saya menjalani terapi ARV dengan benar dan tertib..Berapa lama harapan kami bisa hidup setelah dinyatakan terinfeksi HIV - AIDS..???

7. Dengan mmetode pengobatan herbal DUA RUPA, berapa lama saya dan putri saya bisa disembuhkan?

terima kasih...

Komunitas AIDS Indonesia mengatakan...

Jakarta-RoL-- Pemerintah secara bertahap akan mengalihkan stok obat antiretroviral (ARV) untuk orang-orang dengan infeksi virus/sindroma merapuhnya kekebalan tubuh (HIV/AIDS) ke provinsi supaya proses pendistribusiannya lebih cepat.

"Selama ini distribusi untuk 153 kabupaten semuanya dilakukan dari pusat tetapi nanti secara bertahap akan dialihkan ke provinsi dan provinsi yang akan mendistribusikannya ke kabupaten," kata Kepala Subdit AIDS dan Penyakit Menular Seksual Departemen Kesehatan dr.Sigit Priohutomo, MPH di Jakarta, Kamis.

Usai berbicara dalam seminar sosialisasi Global Fund AIDS, Tuberkulosis dan Malaria (GF ATM) bagi masyarakat sipil, ia menjelaskan selanjutnya kabupaten/kota juga diharapkan memiliki kemampuan untuk mengelola stok penyangga (buffer stock) ARV.

Sigit menjelaskan, saat ini pihaknya sedang menyiapkan kemampuan kelembagaan terkait di tingkat provinsi dan kabupaten/kota dalam mengelola stok penyangga ARV.

"Kalau tidak disiapkan, kami khawatir provinsi tidak mampu memperkirakan 'stock out' (stok habis-red) obat di kabupaten/kota serta mengantisipasinya," jelasnya.

Sebab, ia menambahkan, jangankan semua obat, satu jenis obatnya tidak tersedia secara kontinyu saja bisa membahayakan keberhasilan pengobatan.

"Di samping bisa menggagalkan pengobatan, juga bisa menyebabkan resistensi obat. Itu lebih berbahaya lagi," jelasnya.

Lebih lanjut Sigit menjelaskan pula bahwa pemerintah akan memperluas penyediaan unit sarana pemeriksaan dan konseling sukarela (HIV/AIDS) dan penyediaan ARV gratis. "Layanan VCT dan ARV baru tersedia di 153 kabupaten/kota, sedangkan layanan VCT saja terdapat di sekitar 220 kabupaten/kota," katanya.

Tahun 2009 nanti, kata dia, unit sarana pemeriksaan dan konseling HIV/AIDS sukarela (Voluntary Counseling and Test/VCT) serta penyediaan ARV secara bertahap akan disediakan di semua kabupaten/kota.

"Kami juga akan menyediakan logistiknya, baik obat maupun reagennya," kata Sigit serta menambahkan kedua pelayanan itu disediakan di rumah sakit.

Depkes, menurut dia, juga akan mengupayakan penyediaan alat pemeriksa CD4 (Cluster of Differentiation4)--sel darah putih yang memberi kekebalan tubuh-- di setiap provinsi.

Sebab, ia melanjutkan, hingga saat ini alat pemeriksa CD4 yang diperlukan untuk memantau dampat pengobatan HIV/AIDS baru tersedia di 13 provinsi termasuk Medan, Sumatera Selatan, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Bali dan Jayapura.

Dalam rangka merealisasikan target tersebut, katanya, Departemen Kesehatan tengah melakukan penguatan lembaga di tingkat kabupaten/kota dan mencetak tenaga pelatih penyelenggaraan VCT dan pendistribusian ARV. "Pusat pelatihan regional juga akan dibentuk. Perencanaan pelatihan pun telah disiapkan," katanya.

Ia mengatakan, semua itu merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan jangkauan program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS karena angka kejadian penyakit mematikan itu cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

Menurut data Departemen Kesehatan hingga 30 Juni 2007 jumlah total kasus AIDS yang dilaporkan sebanyak 9.689 kasus dan kasus HIV terlapor sebanyak 5.813 kasus sedangkan menurut estimasi tahun 2006 populasi yang rawan tertular HIV di Indonesia sebanyak 193.000 jiwa. antara/abi

 
Support : Webrizal | Tutorial | My Opini
Copyright © 2009-2014. webrizal.com - All Rights Reserved
Template Recreated by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger